Download 99 Nama Allah (Asmaul Husna)

01.  Arrahman  Maha Pemurah
02.  Arrahim  Maha Penyayang
03.  Almalik  Maha Raja
04.  Al Quddus  Maha Bersih dari noda dan cacat
05.  As Salam  Maha Pemberi Ketentraman
06.  Al Mu’min  Maha Pemberi Keamanan
07.  Al Muhaimin  Maha Pelindung dan Pengawas
08.  Al Aziz  Maha Perkasa
09.  Al Jabbar  Maha Agung
10.  Al Mutakabbir  Maha Angkuh
11.  Al Kholiq  Maha Pencipta
12.  Al Bari’  Maha Pencipta dari tidak ada
13.  Al Mushawir  Maha Pembentuk
14.  Al Ghaffar  Maha Pemberi Ampun
15.  Al Kahhar  Maha Menentukan
16.  Al Wahhab  Maha Pemberi
17.  Al Razzak  Maha Pemberi Rezeki
18.  Al Fattah  Maha Pembuka
19.  Al Aliim  Maha Mengetahui
20.  Al Qobidh  Maha Pemegang dan Penahan
21.  Al Baasith  Maha Pelepas
22.  Al Khofidh  Maha Merendahkan
23.  Ar Rafii’  Maha Meninggikan
24.  Al Muiz  Maha Memuliakan
25.  Al Mudzil  Maha Menghinakan
26.  As Samii’  Maha Mendengar
27.  Al Bashir  Maha Melihat
28.  Al Hakam  Maha Penghukum
29.  Al Adl  Maha Adil
30.  Al Latif  Maha Lembut
31.  Al Khobir  Maha Mengetahui
32.  Al Halim  Maha Penyantun ( Maha Tenang dan Sabar )
33.  Al Adhim  Maha Agung
34.  Al Ghafur  Maha Pengampun
35.  Asy Syakur  Maha Pembalas Jasa
36.  Al ‘Aliyyu  Maha Tinggi
37.  Al Kabir  Maha Besar
38.  Al Hafiidh  Maha Pemelihara
39.  Al Muqiit  Maha Pemberi Pangan
40.  Al Hasiib  Maha Menghitung
41.  Al Jalil  Maha Sempurna
42.  Al Karim  Maha Pemurah
43.  Ar Raqiib  Maha Mengawasi
44.  Al Mujib  Maha Mengabulkan
45.  Al Waasi’  Maha Luas
46.  Al Hakiim  Maha Bijaksana
47.  Al Wadud  Maha Mengasihi 
48.  Al Majiid  Maha Mulia
49.  Al Baa’its  Maha Membangkitkan
50.  Asy Syahid  Maha Menyaksikan
51.  Al Haq  Maha Benar
52.  Al Wakil  Maha Mewakili
53.  Al Qowi  Maha Kuat
54.  Al Wali  Maha Pelindung (Penolong)
55.  Al Matiin  Maha Kokoh/Teguh
56.  Al Hamiid  Maha Terpuji
57.  Al Muhshi  Maha Menghitung
58.  Al Mubdi’  Maha Memulai
59.  Al Mu’id  Maha Mengembalikan
60.  Al Muhyi  Maha Menghidupkan
61.  Al Mumit  Maha Mematikan
62.  Al Hayyu  Maha Hidup
63.  Al Qayyum  Maha Berdiri Sendiri
64.  Al Waajid  Maha Menemukan
65.  Al Majid  Maha Memiliki Kemuliaan
66.  Al Wahid  Maha Esa (Tunggal)
67.  Al Ahad  Maha Esa (Tunggal)
68.  Ash Shomad  Tempat bergantung dan Memohon
69.  Al Qaadir  Maha Kuasa (Mampu)
70.  Al Muqtadir  Maha Berkuasa
71.  Al Muqoddim  Maha Mendahulukan
72.  Al Muakhir  Maha Mengakhirkan
73.  Al Awwal  Maha Awal
74.  Al Akhir  Maha Akhir
75.  Adh Dhahir  Maha Jelas Kekuasaannya
76.  Al Bathin  Maha Tidak tampak (kelihatan) DzatNya
77.  Al Waali  Maha Menguasai
78.  Al Mutaali  Maha Tinggi
79.  Al Barru  Maha Baik
80.  At Tawwab  Maha Penerima taubat
81.  Al Muntaqim  Maha Penyiksa
82.  Al Afuwwu   Maha Pemaaf
83.  Ar Rauf  Maha Belas Kasihan
84.  Maalikul Mulki  Maha Memiliki Kerajaan
85.  Dzuljalali Walikram  Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan
86.  Al Muqsith  Maha Adil
87.  Al Jaami’  Maha Mengumpulkan (Menghimpun)
88.  Al Ghani’  Maha kaya
89.  Al Muqhni  Maha Pemberi Kekayaan
90.  Al Maani’  Maha Mencegah
91.  Adh Dhaarru  Maha Pemberi Madharat
92.  An Naafi’  Maha Pemberi Manfaat
93.  An Nur  Maha Pemberi cahaya
94.  Al Haadi  Maha Pemberi Petunjuk
95.  Al Badii’  Maha Pencipta Keindahan
96.  Al Baaqi  Maha kekal
97.  Al Waarits  Maha Mewarisi
98.  Ar Rasyid  Maha Pemberi Petunjuk
99.  Ash Shabur  Maha Penyabar

DOWNLOAD DISINI

Do’a Sebelum Belajar dan Artinya

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد
اَللَّهُمَّ اَخْرِجْنِي مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ، وَاَكْرِمْنِي بِنُوْرِ الْفَهْمِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَانْشُرْ عَلَيْنَا خَزَآئِنَ عُلُوْمِكَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
Allâhumma akhrijnî min zhulumâtil wahmi, wa akrimnî bi nûril fahmi. Allâhummaftah ‘alaynâ abwâba rahmatika, wansyur ‘alaynâ khazâina ‘ulûmi- ka birahmatika yâ Arhamar râhimîn.

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, keluarkan aku dari gelapnya kebingungan dan muliakan aku dengan cahaya pemahaman. Ya Allah, bukakan kepada kami pintu-pintu rahmat-Mu, dan curahkan kepada kami khazanah-khazanah ilmu-Mu dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

Larangan polwan memakai jilbab; cermin kegagalan kapitalisme

POLWAN-jilbab1 (Mobile)(Arrahmah.com) –  Berkembangnya isu pelarangan Polisi Wanita (Polwan) untuk memakai jilbab mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan. Cukup banyak anggota korps polisi wanita (polwan) yang ingin berseragam dengan memakai kerudung. Sayangnya, keinginan itu terbentur peraturan institusinya yang mengatur tentang penggunakan seragam polwan berkerudung/busana muslimah di luar Polda Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Di Aceh, polwan diperbolehkan memakai kerudung karena daerah tersebut memiliki aturan tersendiri mengenai otonomi. Namun, di daerah lain belum ada aturan seperti itu.

Siti Noor Laila Ketua Komnas HAM menjelaskan pelarangan penggunaan jilbab bagi polisi wanita (polwan) muslim bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Lantaran setiap orang berhak menggunakan hal-hal yang berkaitan dengan agamanya masing-masing. “Penggunaan jilbab itu berkaitan dengan keyakinan yang dianut oleh sebuah agama. Jika penggunaan jilbab terhadap polwan dilarang, maka itu sudah melanggar HAM karena berkaitan dengan keyakinan,” (Republika.co.id, Sabtu 8/6 ).

Wacana keinginan para Polwan yang ingin memakai kerudung ditanggapi positif oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI berjanji untuk memperjuangkan keinginan para polisi wanita (polwan) yang ingin mengenakan jilbab.

Kewajiban Muslimah

Ketika kita berbincang tentang para perempuan yang memeluk agama Islam, bagaimana keadaan mereka saat ini? Kehidupan mereka penuh dengan budaya-budaya non Islami yang semakin mendekatkan diri mereka pada kebiasaan kufur. Ironis memang, perempuan- perempuan yang mengaku Islam malah lebih bangga menggunakan busana ala selebritis dengan pakaian tanktop dan celana pendeknya. Mereka merasa sexy dan mengagumkan dengan pakaian tersebut, lebih tepatnya pakaian “kurang bahan”. Astagfirullah..

Allah telah memberikan batasan yang jelas tentang aurat perempuan yaitu seluruh badan perempuan kecuali muka dan telapak tangan. Sehingga leher perempuan adalah aurat, rambutnya sekalipun sehelai saja juga termasuk aurat. Kepala perempuan dari sisi manapun adalah aurat. Maka semua hal selain wajah dan telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutupi. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’aala surat Al-Ahzab : 59 dan surat Annur: 31.

Al-Qur’an surat An-Nur kepala ayat 31: Wahai Muhammad perintahkanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman, agar menjaga pandangan mata mereka ketika berhadapan dengan laki-laki bukan mahramnya, dan menjaga kemaluan mereka dari zina. Janganlah mereka menampakkan bagian leher dan dada mereka. Yang boleh tampak hanyalah wajah dan telapak tangan mereka. Kepala dan dada mereka hendaklah ditutup dengan kerudung lebar. Janganlah mereka menampakkan kepala, leher, dada, dan tangan mereka kecuali kepada suami, ayah, mertua, anak laki-laki kandung atau tiri, saudara laki-laki, keponakan laki-laki dari saudara laki-laki atau perempuan mereka atau sesama perempuan muslim atau budak laki-laki mereka, atau laki-laki pembantu rumah tangga mereka yang tidak punya birahi atau anak-anak yang belum mengenal aurat perempuan. Janganlah perempuan itu membunyikan gelang kaki mereka agar orang lain mengetahui perhiasan yang tersembunyi pada kaki-kaki mereka. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertaubat kepada Allah supaya kalian mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dari sini jelas bahwa menutup aurat bagi muslimah adalah wajib, sekaligus bagian dari kesempurnaan iman. Sebagaimana perintah Allah Subhanahu Wa Ta’aala untuk masuk Islam secara kaffah. Artinya, iman akan berkonsekuensi untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kewajiban mengenakan Jilbab yang dapat menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan adalah hukum syara’. Bagaimana seharusnya seorang muslimah mentaati Syari’at Allah dengan mengenakan jilbab ketika berada dalam kehidupan umum (di luar rumah).

Pembenaran yang menggelikan

Walaupun para muslimah mengetahui bahwa mengenakan jilbab adalah kewajiban, tetapi kenapa masih banyak juga perempuan yang mengaku Islam tapi lebih memilih berpakaian dengan kiblat barat? Padahal aturan dari AllahSubhanahu Wa Ta’aala ini untuk menjaga, melindung dan memuliakan perempuan, bukannya mengkungkung perempuan seperti yang difitnahkan oleh bangsa barat.

Di satu sisi negeri ini mengkampanyekan kebebasan beragama, namun melarang perempuan muslimah untuk menjalankan kewajiban agama yang diyakininya. Perempuan-perempuan semi telanjang yang mengumbar aurat mereka dibiarkan dengan alasan kebebasan. Namun, wanita-wanita Muslimah yang menutup aurat mereka sebagai cerminan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala justru dipertanyakan dan dipermasalahkan.

Tudingan-tudingan untuk membenarkan larangan jilbab ini pun tidak kalah lucunya. Mereka mengatakan jilbab merupakan simbol belenggu terhadap kebebasan wanita. Padahal wanita Muslimah yang memakai jilbab sendiri tidak pernah merasa bahwa jilbab yang dikenakannya adalah belenggu mereka, karena mereka menjalankannya dengan ikhlas sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala.

Argumentasi bahwa pelarangan menutup aurat bagi Polwan atas alasan aturan seragam dinas, jelas bertentangan dengan hukum syara’. Di samping itu, paham kedaerahan dan kesukuan seolah menguatkan dalih pembolehan menggunakan seragam dinas dengan berkerudung hanya di daerah tertentu. Pembolehan menutup aurat bagi Polwan di Aceh bukanlah dalih pembenaran untuk hanya mengizinkan mereka saja yang menutup aurat, sementara Polwan muslimah di daerah lain dilarang. Aturan demikian jelas bernafaskan pluralisme, yang di dalamnya menyamaratakan tiap agama.

Kapitalisme-Liberalisme Gagal!

Makin nyata, demokrasi makin mengotak-ngotakkan kaum muslimin. Jati diri muslim makin terkikis atas alasan solidaritas suku dan asal daerah. Padahal, mereka seorang muslim yang terikat dengan Hukum Syara’. Bagaimana bisa aturan Islam jadi berbeda-beda untuk daerah yang berbeda seperti ini? Sungguh tidak masuk akal.

Kapitalisme tentu telah menutup pintu dialog tentang masalah ini. Argumentasi yang menggunakan nalar kekuasaan negara bukan nalar intelektual dan kemanusiaan. Ini sekaligus mencerminkan kegagalan ideologi Kapitalisme untuk memenangkan secara intelektual perdebatan ini. Nalar kekuasaan selalu berujung pada larangan.

Larangan atas jilbab bagi polwan hanyalah tindakan putus asa berkedok kebijakan/aturan yang gagal mencoba untuk membendung bertambahnya perempuan Muslim yang menolak liberalisme Barat dan mengadopsi Islam sebagai jalan spiritual, sosial dan jalan politik dalam hidup. Larangan ini merupakan penindasan sistem sekular untuk memaksa perempuan Muslim meninggalkan nilai-nilai Islam mereka dan mengambil nilai-nilai Barat.

Inilah negeri kita. Negeri yang memakai sistem kufur buatan manusia, yang telah membuat kita jauh dari agama yang shahih. Jauh dari fitrah kita untuk beribadah kepada Allah. Jika saja negara kita menerapkan syariat Islam pastilah semua umat muslim di negeri ini baik perempuan maupun laki-laki akan menjadi insan yang taat dan patuh terhadap hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’aala.

Demokrasi sebagai sistem kehidupan kufur yang saat ini masih bisa pongah, memang takkan pernah sedikitpun memberikan ruang bagi kaum muslimin untuk melaksanakan aturan Islam secara kaffah. Menutup aurat secara sempurna adalah KEWAJIBAN, bukan HAK. Konsekuensi tidak terlaksananya sebuah kewajiban adalah dosa. Karena pembuat aturan menutup aurat bukan atasan, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’aala, Sang Khaliq. Dan karena menutup aurat adalah kewajiban individu muslimah, maka dalih dosa kolektif yang ditanggung oleh pembuat kebijakan tidaklah bisa menjadi argumentasi. Itu jelas argumentasi bathil. Wallahu A’lam Bis-Shawaab.

(samirmusa/arrahmah.com)

Adab Makan Minum Rasulullah

adab-makan-minum-RasulullahJika anda sering mendengar istilah “Cara Shalat Nabi”, maka ada juga istilah Cara Makan Nabi atau Cara Makan Rasulullah atau Adab Makan Minum Rasulullah. Cara makan Rasullah tentu saja merupakan tata cara makan yang benar, cara makan yang baik dan cara makan sehat.
Bukti Adab Makan Minum Rasulullah Adalah yang Terbaik
Bukti primer yang paling kuat, paling ilmiah, paling masuk akal dan paling tidak terbantahkan adalah bukti di bawah ini:

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21).

 
Tapi anehnya, banyak orang lebih meyakini bukti sekunder ketimbang bukti primer. Semoga bukan termasuk kita semua. Amin.
Begini contohnya:
Orang yang meninggalkan makan minum karena puasa menurut ilmu Biokimia ternyata perlu, sehat dan baik! Lalu dari kalangan kedokteran juga memberikan pernyataan yang senada. Mereka memberikan sederet “alasan ilmiah” dari segudang ilmu dan laboratorium yang dimilikinya. Ya, “Puasa itu baik”, menurut kesimpulan mereka. Lantas…. kita pun percaya. Lalu jutaan orang lebih giat berpuasa. Bahkan, yang semula ogah berpuasa mendadak ikut-ikutan juga puasa. Itu karena mereka percaya pada Biokimia dan Kedokteran bahwa puasa itu sehat, puasa itu perlu dan PUASA ITU BAIK!
Sadarkah anda, berabad-abad yang lalu Nabi Muhammad telah mendapat kesimpulan itu dalam Al Baqarah yang berbunyi: wa antashuumu khairu lakum, yang berarti “DAN PUASA ITU BAIK BAGIMU.”
Nah, jika puasa kita karena kesimpulan ahli Biokima atau kedokteran berarti kita lebih percaya pada manusia ketimbang kepada Allah. Padahal Allah sejak dulu telah memberikan penjelasan itu untuk kita, manusia.
Saya tidak anti Biokimia, wong saya dulu pernah menekuni ilmu Kimia. Tapi semestinya kita tidak lebih mempercayainya di atas Al Quran atau As Sunnah. Biokimia dan kedokteran adalah sekedar bukti sekunder, bukti primernya adalah Al Quran.
Saya tidak mengatakan bahwa Biokimia dan Kedokteran bukan ilmu Allah, wong kabeh-kabeh ilmune gusti Allah. Tapi pasal-pasal, hukum, postulat dan kaidah Biokimia dan Kedokteran adalah ciptaan manusia, kan?
Cara yang tidak ilmiah
Jika untuk meyakini sebuah ayat Al Quran atau Hadits dengan cara menunggu hasil peneletian manusia, ini merupakan cara yang tidak ilmiah. Justeru seharusnya dibalik: untuk meyakini hasil penelitian manusia diperlukan ayat Al Quran. Jika hasil penelitian manusia tidak sejalan dengan Al Quran, maka sudah pasti hasil penelitian itu KELIRU! Setuju? Contohnya, terhadap teori Darwin yang tidak sejalan dengan Al Quran kita harus tolak mentah-mentah. Betul?
Sebaliknya, kita harus terima mentah-mentah seluruh isi Al Quran dan Hadits walaupun tidak atau belum ada manusia yang melakukan penelitian akan kebenaran dan mafaatnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya sajikan Adab Makan Minum Rasulullah berdasarkan hadits. Kita harus percaya mentah-mentah bahwa cara ini adalah cara yang paling baik. Kita tidak perlu menunggu hasil penelitian manusia. Kalaupun manusia telah berhasil membuktikannya, itu merupakan bukti sekunder saja.
Adab Makan Minum Rasulullah

Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari, dan sabdanya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan. Dan beliau SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan” (HR. Muslim)
Janganlah sekali sekali salah seorang di antara kamu makan dengan tangan kirinya dan jangan pula minum dengan tangan kiri karena setanlah yang makan dan minum dengan tangan kiri (HR Muslim)
Dari Annas dan Qatadah bahwa Rasulullah SAW melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Bagaimana dengan makan?” Beliau (Rasul) menjawab, “Itu lebih buruk lagi” (HR Muslim, Tirmidzi)
Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi)

Kesimpulan adab makan minum menurut hadits-hadits di atas:
– Rasul makan dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah)
– Usahakan makanan jangan sampai jatuh
– Jika makanan jatuh, ambillah lalu makanlah. Jangan biarkan dimakan setan
– Jangan menyisakan makanan, karena mungkin berkahnya pada sisa itu
– Jangan makan minum dengan tangan kiri
– Jangan makan minum sambil berdiri
– Jangan meniup makanan atau minuman
Percayalah bulat-bulat bahwa inilah cara makan yang baik. Terimalah teori ini mentah-mentah bahwa ini cara makan yang benar. Tidak usah menunggu profesor mengadakan penelitian tentang cara makan minum terbaik… anda ketinggalan kereta, Bung! Meskipun sudah ada bukti medisnya, itu hanyalah bukti sekunder. Bukti primernya adalah QS Al Ahzab:21 bahwa Rasulullah adalah contoh terbaik…
source : akhmadtefur.com

Aksi Hizbut Tahrir Indonesia Tolak Kenaikan Harga BBM

Sekitar 3000 massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)  menggelar aksi, Jumat (14/6) di Depan Istana Presiden, Jalan Medan Merdeka. Dalam tuntutan tersebut HTI, menyatakan kebijakan menaikkan harga BBM adalah kebijakan khianat, dzolim dan dusta. Sebelum aksi, massa melakukan longmarch yang dimulai dari patung kuda monas menuju Istana Presiden.[]

hti tolak kenaikan bbm1 hti tolak kenaikan bbm2

Khasiat Air Zam-Zam

air_2Banyak mungkin yang sudah mengenal air zam-zam dan mungkin pula pernah menikmati kelezatannya. Namun, sebenarnya air yang satu ini punya khasiat yang tidak kita temui dalam air lainnya. Simak artikel faedah ilmu berikut.

 

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz [1] -rahimahullah- pernah ditanya, “Apakah ada hadits shahih yang menjelaskan mengenai khasiat air zam-zam?”

 

Beliau –rahimahullah- menjawab, “Telah terdapat beberapa hadits shahih yang menjelaskan mengenai kemuliaan air zam-zam dan keberkahannya.

 

Dalam sebuah hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

 

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

 

Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”

 

Ditambahkan dalam riwayat Abu Daud (Ath Thoyalisiy) dengan sanad jayyid (bagus) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

 

وَشِفَاءُ سُقْمٍ

 

Air zam-zam adalah obat dari rasa sakit (obat penyakit).

 

Hadits-hadits di atas menunjukkan khasiat air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa pula menjadi obat penyakit. Air tersebut juga adalah air yang penuh keberkahan.

 

Termasuk sunnah adalah meminum beberapa dari air tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena di dalam air tersebut terdapat keberkahan. Air tersebut bisa menjadi makanan yang baik dan makanan yang diberkahi. Air tersebut disyari’atkan untuk dinikmati jika memang mudah didapatkan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Hadits-hadits tadi sekali lagi menunjukkan pada kita mengenai khasiat dan keberkahannya sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Air itu bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan obat penyakit. Dianjurkan bagi setiap mukmin menikmati air tersebut jika memang mudah memperolehnya. Air tersebut juga bisa digunakan untuk berwudhu. Air tersebut bisa digunakan untuk beristinja’ (membersihkan kotoran setelah buang air, -pen). Air tersebut juga bisa digunakan untuk mandi junub jika memang ada kebutuhan untuk menggunakannya.

 

Dalam hadits dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeluarkan air dari sela-sela jarinya. Kemudian para sahabat mengambil air tersebut untuk keperluan mereka. Ada yang menggunakannya untuk minum, berwudhu, mencuci pakaian dan beristinja’. Ini semua riil (nyata). Air yang dikeluarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sela-sela jarinya tadi, walaupun bukan air zam-zam, namun keduanya air yang sama-sama mulia. Jika diperbolehkan berwudhu, mandi, beristinja’, dan mencuci pakaian dengan menggunakan air yang keluar dari sela-sela jari tadi, maka air zam-zam boleh diperlakukan seperti itu.

 

Intinya, air zam-zam adalah air yang thohur (suci dan dapat mensucikan) dan air yang thayyib (sangat baik). Kita dianjurkan untuk meminum air tersebut. Tidak mengapa jika air tersebut digunakan untuk berwudhu’, mencuci pakaian, beristinja’ jika ada kebutuhan, dan digunakan untuk hal-hal lain sebagaimana yang telah dijelaskan. Segala puji bagi Allah. –Demikian penjelasan Syaikh Ibnu Baz-

 

Intinya, khasiat air zam-zam sebagai berikut.

 

Pertama, air zam-zam adalah air yang penuh keberkahan. Air zam-zam adalah sebaik-baik air di muka bumi ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

 

Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit.

 

Boleh mengambil keberkahan dari air tersebut karena hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dianjurkan bagi orang yang meminum air zam-zam untuk memerciki air tersebut pada kepala, wajah dan dadanya. Sedangkan ngalap berkah dari benda-benda lainnya –seperti dari keris, keringat para Kyai dan batu ajaib-, maka seperti ini adalah ngalap berkah yang tidak berdasar karena tidak ada petunjuk dari Al Qur’an dan As Sunnah sama sekali.

 

Kedua, air zam-zam bisa menjadi makanan yang mengenyangkan.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

 

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

 

Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”

 

Ketiga, air zam-zam bisa menyembuhkan penyakit. Sampai-sampai sebagian pakar fiqih menganjurkan agar berbekal dengan air zam-zam ketika pulang dari tanah suci untuk menyembuhkan orang yang sakit. Dalilnya, dulu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah membawa pulang air zam-zam (dalam sebuah botol), lalu beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan seperti ini. Diriwayatkan dari yang lainnya, dari Abu Kuraib, terdapat tambahan,

 

حَمَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَدَاوَى وَالْقِرَبِ وَكَانَ يَصُبُّ عَلَى الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa air zam-zam dalam botol atau tempat air. Ada orang yang tertimpa sakit, kemudian beliau menyembuhkannya dengan air zam-zam.”

 

Keempat, do’a bisa terkabulkan melalui keberkahan air zam-zam

 

Hendaklah seseorang memperbanyak do’a ketika meminum air zam-zam. Ketika meminumnya, hendaklah ia meminta pada Allah kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

 

Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” [Maksudnya do’a apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah do’a yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdo’a:

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

 

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” [Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit]. Namun riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah).

 

Catatan: Para ulama bersepakat bolehnya menggunakan air tersebut untuk bersuci. Namun mereka mengatakan sebisa mungkin dijauhi untuk hal-hal yang rendah seperti membersihkan najis dan semacamnya. Al ‘Allamah Al Bahuti rahimahullah dalam Kasyful Qona’ mengatakan,

 

كَذَا يُكْرَهُ ( اسْتِعْمَالُ مَاءِ زَمْزَمَ فِي إزَالَةِ النَّجَسِ فَقَطْ ) تَشْرِيفًا لَهُ ، وَلَا يُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي طَهَارَةِ الْحَدَثِ

 

“Dimakruhkan menggunakan air zam-zam untuk menghilangkan najis saja, dalam rangka untuk memuliakan air tersebut. Sedangkan menggunakannya untuk menghilangkan hadats tidaklah makruh.”

 

Artikel http://rumaysho.com

Dalil-Dalil Tentang Al-Mahdi (Imam Mahdi)

imam-mahdiBanyak hadits shahih yang menunjukkan akan munculnya Al-Mahdi ini. Di antaranya ada hadits-hadits yang secara eksplisit menyebutkan Al-Mahdi dan ada pula yang hanya menyebut sifat-sifat atau identifikasinya saja. Di sini akan kami sebutkan beberapa hadits saja yang kami pandang sudah cukup untuk menunjukkan akan munculnya Al-Mahdi pada akhir zaman yang merupakan salah satu tanda sudah dekatnya hari kiamat.

1. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Artinya : Pada masa akhir umatku akan muncul Al-Mahdi. Pada waktu itu Allah me-nurunkan banyak hujan, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan banyak harta (penghasilan), banyak ternak, umat menjadi mulia, dan dia hidup selama tujuh atau delapan tahun.” [Mustadrak Al-Hakim 4: 557-558, dan ia berkata, “Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Dan Adz-Dzahabi menyetujui pendapat Al-Hakim ini. Al-Albani berkata, “Ini adalah sanad yang shahih yang perawi-perawinya terpecaya.” Silsilatul-Ahaditsish-Shalihah 2:336, hadits no. 711. Dan periksa risalah (Thesis) Abdul Alim” Ahaditsul Mahdi Fi Mizanil-Jarhi wat-Ta’dil” halaman 127-128]

2. Juga diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya Al-Mahdi yang akan diutus (ke tengah-tengah manusia) ketika manusia sedang dilanda perselisihan dan kegoncangan-kegoncangan, dia akan memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnnya bumi dipenuhi dengan penganiayaan dan kezhaliman. Seluruh penduduk langit dan bumi menyukainya, dan dia akan membagi-bagikan kekayaan secara tepat (merata).” Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Apakah yang dimaksud dengan shihah (tepat) ?” Beliau menjawab, “Merata di antara manusia.” Dan selanjutnya beliau bersabda, “Dan Allah akan memenuhi hati umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kekayaan (kepuasan), dan meratakan keadilan kepada mereka seraya memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: ‘Siapakah yang membutuhkan harta? Maka tidak ada seorang pun yang berdiri kecuali satu, lalu Al-Mahdi berkata, “Datanglah kepada bendahara dan katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Al-Mahdi menyuruhmu memberi uang. ‘Kemudian bendahara berkata, ‘Ambillah sedikit” Sehingga setelah dibawanya ke kamarnya, dia menyesal seraya berkata, ‘Saya adalah umat Muhammad yang hatinya paling rakus. atau saya tidak mampu mencapai apa yang mereka capai’ Lalu ia mengembalikan uang (harta) tersebut, tetapi ditolak seraya dikatakan kepadanya, ‘Kami tidak mengambil kembali apa yang telah kami berikan.’ Begitulah kondisinya waktu itu yang berlangsung selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun. Kemudian tidak ada kebaikan lagi dalam kehidupan sesudah itu. ” [Musnad Ahmad 3: 37. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya secara ringkas, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan berbagai sanad, juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan ringkas dan perawi-perawinya terpecaya.” Majma’uz Zawaid 7: 313:314. Dan periksalah “Aqidatu ahlis-Sunnah wal-Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntazhar” halaman 177 karya Syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbad)].

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah kematian Al-Mahdi akan muncul keburukan dan muncul fitnah-fitnah yang besar.

3. Dari Ali Radhiyallahu ‘anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Al-Mahdi itu dari golongan kami, ahli bait. Allah memperbaikinya dalam satu malam. ” [Musnad Ahmad 2: 58 hadits nomor 645 dengan tahqiq Ahmad Syakir yang mengatakan. “Isnadnya shahih.” Dan Sunan Ibnu Majah 2:1367. Hadits ini juga dishahkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 6: 22 hadits nomor 6611].

Ibnu Katsir berkata, “Allah menerima taubatnya dan memberinya taufiq, memberinya ilham dan bimbingan setelah sebelumnya tidak demikian.” [An-Nihayah fil-Fitan wal-Malahim 1: 29) dengan tahqiq DR. Thaha Zaini]‘

4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Al-Mahdi itu dari keturunanku, lebar dahinya dan mancung hidungnya. la memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezhaliman dan penganiayaan.. la berkuasa selama tujuh tahun.” [Sunan Abu Daud, Kitab Al-Mahdi 11: 375 hadits nomor 4265. Mustadrak Al-Hakim 4: 557 dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim, tetapi beliau berdua (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi berkata. “lmran, salah seorang perawinya, adalah dha’if dan Muslim tidak meriwayatkan haditsnya.” Dan mengenai sanad Abi Daud, Al-Mundziri berkata, “Di dalam sanadnya terdapat Imran Al-Qaththan, yaitu Abul ‘Awwam Imran bin Dawur Al-Qaththan Al-Bishri, Al-Bukhari menjadikan haditsnya sebagai syahid. dan dia dianggap kepercayaan oleh Affan bin Muslim dan Yahya bin Sa’id Al-Qaththan memujinya dengan baik. Tetapi dia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan Nasa’i.” (Aunul Ma’bud 11: 37). Adz-Dzahabi berkata dalam Mizanul I’tidal, “Ahmad berkata, ‘Saya berharap dia itu baik haditsnya.’ Abu Daud berkata, ‘Dha’if.’ (mizanul I’tidal 3: 26). Ibnu Hajar berkata mengenai Imran, “Dia itu jujur tetapi tertuduh berfaham Khawarij. ” (Taqribut-Tahdzib 2: 83). Dan Ibnul Qayyim mengomentari sanadnya Abu Daud demikian. “Jayyid (bagus). ” (Al-Manarul Munif: 144 dengan tahqiq Syeh Abdul Fattah Abu Ghadah). Al-Albani berkata, “Isnadnya hassan. ” (Shahih Al-Jami’ush Shaghir 6: 22-23 hadits nomor 6612)].

5. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Al –Mahdi itu keturunanku, dari anak cucu Fatimah.” [Sunan Abi Daud : 373; Sunan Ibnu Majah 2: 1368. Al-Albani berkata dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir 6: 22 nomor 6610. “Shahih.” Dan periksalah Risalah / Thesis Abdul’Alim tentang “Al-Mahdi” halaman 160].

6.  Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Isa bin Maryam akan turun, lalu pemimpin mereka, Al-Mahdi, berkata. ‘Marilah shalat bersama kami! ’Isa menjawab, Tidak! Sesungguhnya sebagian mereka menjadi amir (pemimpin) bagi sebagian yang lain sebagai penghormatan dari Allah kepada umat ini. ‘” [Hadits Riwayat Al-Harits bin Abu Usamah dalam musnadnya seperti disebutkan dalam Al-Manarul Munif karya Ibnul Qayyim halaman 147-148, dan diriwayatkan dalam kitab Al-Hawi fi Al-Fatawa karya As-Suyuthi 2: 64. Ibnul Qayyim berkata, “Hadits ini isnadnya jayyid (bagus). ” Dan dishahkan oleh Abdul ‘Alim dalam Risalahnya tentang Al-Mahdi halaman 144].

7.     Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah sShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Dari antara keturunan kami akan ada orang yang Isa Ibnu Maryam melakukan shalat di belakangnya. ” [Riwayat Abu Nu’aim dalam Akhbaril Mahdi sebagaimana dikatakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi 2: 64, dan dia memberi tanda dha’if, demikian pula Al-Munawi dalam Faidhul Qadir 6: 17. Al-Albani berkata, Shahih. Periksa: Shahih Al-Jami’ush Shaghir 5: 219 hadits nomor 5796. Abdul ‘Alim mengatakan di dalam risalah nya, isnadnya hasan karena syahid-syahidnya.” Periksa Risalah/Thesis Abdul ‘Alim halaman 241].

8. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku (keluarga rumahku) yang namanya sama dengan namaku.’’ [Musnad Ahmad 5: 199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,”Isnadnya shahih.”Dan Tirmidzi 6:485, dan dia berkata, “Ini adalah hadist hasan shahih. ” Dan Sunan Abu Daud 11: 371]

Dan dalam riwayat disebutkan dengan lafal:

“Namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. ” [Sunan Abi Daud 11: 370. Al-Albani berkata, “Shahih. ” (Shahih Al-Jami’ush Shaghir 5: 70-71, hadits nomor 5180). Dan periksa pula Risalah Abdul ‘Alim tentang al-Mahdi halaman 202]

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]

Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Aisyah Aisyah radhiyallahu ‘anha

aisyah-ummul-mukminin ‘Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau. Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini…”

Intisari wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

Di antara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah

Tidak memuji Allah Subhanhu Wa Ta’ala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.

Mengkufuri nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah

Memperbanyak kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang tidak bermanfaat.

Wahai, Aisyah, ketahuilah :

Bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah

Bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.

Bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya pada hari kiamat.

Bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusah-kan urusan ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.

Bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.

Bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;

Bahwa wanita yang berzina akan dicambuk di hadapan semua makhluk di depan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan delapan puluh cambuk dari api.

Bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.

Bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritanya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.

Bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

Allahumma Amin.

Sumber: Arrahmah